Home Pemerintahan AI Sudah di Depan Mata, Dosen STEBI Al Jabar: Tenaga Pendidik Islam Jangan Sampai Tertinggal

AI Sudah di Depan Mata, Dosen STEBI Al Jabar: Tenaga Pendidik Islam Jangan Sampai Tertinggal

146
0
Berita ini dibaca 146 kali
👥Pengunjung hari ini 354
📊Total pengunjung 14,484
Sedang online 8
SHARE
AI Sudah di Depan Mata, Dosen STEBI Al Jabar: Tenaga Pendidik Islam Jangan Sampai Tertinggal

Keterangan Gambar : Foto Bersama Peserta Ngobrol Pendidikan Islam NGOPI bersama Anggota DPR RI Dr. Atalia Praratya, S.IP, M.I.Kom

BANDUNG – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang semakin pesat mendorong tenaga pendidik Islam untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensinya. Adaptasi terhadap teknologi dinilai penting agar pendidikan Islam tetap relevan dan mampu menjawab tantangan era digital tanpa kehilangan nilai-nilai etika dan akhlak.

Hal tersebut menjadi salah satu perhatian dalam kegiatan Ngobrol Pendidikan Islam (NGOPI) bertema “Peningkatan Kapasitas SDM Tenaga Pendidik Islam di Era AI: Beradaptasi Tanpa Kehilangan Nilai”, yang digelar Kamis (13/8/2026) di Arei Cihampelas, Kota Bandung.

Kegiatan tersebut digagas Anggota DPR RI Dr. Atalia Praratya, S.IP., M.I.Kom. bekerja sama dengan Kementerian Agama. Forum ini mempertemukan berbagai unsur perguruan tinggi keagamaan untuk membahas tantangan sekaligus peluang pemanfaatan AI dalam dunia pendidikan Islam.

Dosen STEBI Al Jabar, Hendi Fauzi, S.Pd., M.Pd., mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, tema yang diangkat sangat relevan dengan kondisi dunia pendidikan saat ini, terutama karena perkembangan AI sudah berada di depan mata.

“Menurut saya, kegiatan ini menjadi jawaban atas kegelisahan kami. Temanya sangat menarik karena AI sudah ada di depan mata. Kalau tenaga pendidik Islam tidak segera meningkatkan kapasitasnya, kita akan tertinggal,” ujar Hendi.

Ia menilai kehadiran AI tidak semestinya dipandang semata-mata sebagai ancaman bagi tenaga pendidik. Sebaliknya, teknologi tersebut harus dipahami dan dimanfaatkan sebagai instrumen untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran.

Namun demikian, Hendi menekankan bahwa proses adaptasi terhadap teknologi harus tetap dibarengi dengan etika dan nilai-nilai pendidikan Islam.

“Dalam proses adaptasi ini tetap harus beretika. Kami siap belajar dan berkolaborasi agar pendidikan Islam tetap relevan, berdaya saing dan berakhlak di era digital,” katanya.

Menurut Hendi, peningkatan kapasitas tenaga pendidik menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan ekosistem pendidikan. Penguasaan teknologi, termasuk AI, perlu berjalan beriringan dengan penguatan karakter, integritas, dan nilai-nilai keislaman.

“Jangan sampai kita hanya mengejar kemampuan menggunakan teknologinya, tetapi kehilangan nilai. Justru tantangannya adalah bagaimana AI bisa kita manfaatkan untuk memperkuat kualitas pendidikan Islam,” ujarnya.

Kegiatan NGOPI tersebut dihadiri perwakilan sejumlah perguruan tinggi keagamaan, di antaranya UIN Sunan Gunung Djati Bandung, STEBI Al Jabar, STAI At-Taqwa, STEBI Bina Esa, dan STAI Al Jawami, serta sejumlah undangan lainnya.

Forum tersebut diharapkan tidak berhenti pada diskusi, tetapi dapat menjadi ruang kolaborasi bagi perguruan tinggi dan tenaga pendidik Islam dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang mampu mengikuti perkembangan teknologi sekaligus tetap berpegang pada nilai, etika, dan akhlak.

Di tengah perkembangan AI yang semakin cepat, tenaga pendidik Islam dituntut bukan hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menjadi pengarah agar pemanfaatan teknologi tetap berpihak pada tujuan utama pendidikan: membentuk manusia yang berilmu, berkarakter, dan berakhlak.

Iklan Sidebar Kiri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here