Home Teknologi BRIN Pertemukan Peneliti Dunia, Kupas Transformasi Pendidikan Islam di Indonesia

BRIN Pertemukan Peneliti Dunia, Kupas Transformasi Pendidikan Islam di Indonesia

35
0
SHARE
BRIN Pertemukan Peneliti Dunia, Kupas Transformasi Pendidikan Islam di Indonesia

Keterangan Gambar : Dok/Brin.go.id

Jakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan bahwa pendidikan Islam di Indonesia terus mengalami transformasi seiring perubahan sosial, politik, budaya, serta perkembangan kebijakan pendidikan dan kehidupan keagamaan. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia dinilai menjadi laboratorium yang kaya untuk mengkaji dinamika pendidikan Islam dari berbagai perspektif.

Hal tersebut mengemuka dalam International Research Sharing Forum bertajuk "The Dynamic of Islamic Education in Indonesia" yang diselenggarakan Pusat Riset Pendidikan (PRP) BRIN di Ballroom Widya Graha, Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie, Jakarta, Selasa (4/8). Forum ini mempertemukan peneliti dari dalam dan luar negeri untuk berbagi hasil kajian sekaligus memperluas kolaborasi riset di bidang pendidikan Islam.

Kepala Pusat Riset Pendidikan BRIN, Trina Fizzanty, menegaskan bahwa pendidikan Islam memiliki peran strategis dalam membangun karakter bangsa. Menurutnya, kajian mengenai pendidikan Islam semakin relevan karena terus berkembang dan menghasilkan berbagai publikasi ilmiah bereputasi internasional.

"Kami berharap melalui sesi berbagi ini dapat muncul ide-ide baru untuk penelitian pendidikan Islam yang relevan dengan dinamika masyarakat Indonesia," ujar Trina.

Ia menambahkan, forum tersebut diharapkan menjadi ruang akademik yang produktif untuk memperkuat jejaring keilmuan, memperkaya perspektif para peneliti, sekaligus mendorong lahirnya riset-riset yang mampu menjawab tantangan masyarakat yang terus berubah.

Salah satu pembicara utama, Profesor dari University of North Florida, Amerika Serikat, Prof. Ronald Lukens-Bull, memandang pendidikan Islam di Indonesia sebagai ruang perjumpaan antara tradisi dan modernitas yang terus mengalami transformasi.

Menurutnya, pertanyaan penting saat ini bukan lagi apakah pendidikan Islam menjadi modern, melainkan bagaimana pendidikan Islam justru membentuk kembali makna modernitas.

"Pertanyaan yang penting bukan apakah pendidikan Islam menjadi modern, tetapi bagaimana modernitas diubah," kata Ronald.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukannya selama puluhan tahun terhadap pesantren dan perguruan tinggi Islam di Indonesia, Ronald menilai lembaga pendidikan Islam tidak pernah meninggalkan akar tradisinya. Sebaliknya, nilai-nilai tradisional terus ditafsirkan ulang agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Ia menjelaskan bahwa pesantren tetap menjadikan pembentukan karakter sebagai inti pendidikan, sementara perkembangan teknologi, pendidikan tinggi, dan sistem birokrasi diterima secara selektif agar tetap sejalan dengan nilai-nilai Islam.

Ronald juga menilai tantangan utama pendidikan Islam saat ini bukan pertentangan antara Islam dan Barat, melainkan bagaimana menghadapi dampak modernitas seperti konsumerisme, individualisme, dan fragmentasi sosial. Karena itu, ia mendorong lahirnya penelitian longitudinal yang mampu memetakan perjalanan alumni pesantren, jejaring para kiai, hingga kontribusi pendidikan Islam terhadap kehidupan publik.

Sementara itu, Guru Besar Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Prof. Nina Nurmila, mengulas dinamika pendidikan Islam dari perspektif pengalaman perempuan Indonesia.

Sebagai alumnus pesantren, Nina menjelaskan bahwa pada masa lalu pendidikan pesantren kerap dipandang kurang menjanjikan karena ijazahnya belum diakui negara dan akses menuju perguruan tinggi masih terbatas. Namun kondisi tersebut berubah ketika banyak pesantren mulai membuka madrasah dan sekolah formal sehingga para santri memperoleh pengakuan akademik tanpa harus meninggalkan tradisi kepesantrenan.

"Pesantren mengadaptasi diri dengan membuat lembaga sekolah," ujarnya.

Menurut Nina, keberhasilan pendidikan Islam tidak hanya diukur dari kemampuannya mencetak ulama, tetapi juga dari kontribusinya dalam memperluas akses pendidikan bagi perempuan. Sejak dekade 1990-an, semakin banyak perempuan Muslim Indonesia menempuh pendidikan tinggi hingga jenjang doktoral.

Ia menilai perkembangan tersebut diperkuat oleh hadirnya pemikiran feminisme Muslim yang mendorong pembacaan ulang terhadap teks-teks keagamaan sehingga perempuan semakin dipandang sebagai subjek yang memiliki kapasitas intelektual dan kepemimpinan yang setara.

Kini, kata Nina, perempuan Muslim Indonesia telah banyak berkiprah sebagai dosen, guru besar, pemimpin perguruan tinggi, hingga tokoh publik. Meski demikian, representasi perempuan dalam posisi-posisi strategis masih perlu terus diperkuat.

"Sekarang di Indonesia banyak perempuan yang berpendidikan. Mereka sudah menjadi dosen, guru besar, pemimpin, dan percaya diri sebagai manusia yang utuh," tuturnya.

Melalui forum internasional ini, BRIN berharap dapat memperluas perspektif penelitian mengenai pendidikan Islam sekaligus memperkuat kolaborasi dengan para peneliti dari berbagai negara. Sinergi tersebut diharapkan melahirkan riset-riset yang lebih komprehensif dan memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan pendidikan Islam di Indonesia di tengah dinamika masyarakat yang terus berkembang.

Iklan Sidebar Kiri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here