
Keterangan Gambar : Wamen Komdigi Nezar Patria (Dok/Humas Komdigi)
BANDA ACEH – Posisi Aceh yang berada di ujung Selat Malaka dinilai memiliki peluang strategis untuk dikembangkan menjadi kekuatan baru dalam teknologi dan ekonomi digital Indonesia.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamen Komdigi) Nezar Patria mengatakan, Selat Malaka bukan hanya menjadi jalur perdagangan dunia, tetapi juga merupakan bagian penting dari infrastruktur digital global.
Hal itu disampaikan Nezar dalam diskusi bertajuk Aceh, Selat Malaka, dan Masa Depan Digital Indonesia di Banda Aceh, Minggu (6/9/2026).
Menurutnya, kabel komunikasi bawah laut yang menjadi salah satu infrastruktur utama internet global melintas di bawah Selat Malaka dan menghubungkan lalu lintas data antarnegara.
“Subsea cable yang menghubungkan internet yang kita pakai sekarang itu melintas di bawah Selat Malaka,” tutur Nezar.
Namun, Nezar mengingatkan bahwa posisi geografis yang strategis tidak secara otomatis memberikan manfaat ekonomi bagi daerah. Aceh, kata dia, harus memiliki kapasitas untuk mengolah keunggulan geografis tersebut menjadi nilai ekonomi.
Ia menilai tantangan ke depan bukan hanya menyediakan konektivitas digital, tetapi juga memastikan masyarakat Aceh memiliki kemampuan menguasai teknologi dan memanfaatkannya untuk mengembangkan sektor ekonomi, pemerintahan, maupun pelayanan masyarakat.
“Yang penting bukan lagi Selat Malaka sebagai anugerah geografis. Pertanyaannya adalah bagaimana kita menciptakan nilai dari Selat Malaka itu,” tegasnya.
Nezar mencontohkan keberadaan infrastruktur kabel bawah laut yang melintasi Selat Malaka. Infrastruktur tersebut menjadi bagian penting dalam lalu lintas data internasional. Namun, titik gateway utama untuk lalu lintas tersebut saat ini masih banyak terkonsentrasi di Singapura.
Menurutnya, kondisi tersebut seharusnya menjadi momentum bagi Indonesia untuk melihat peluang pengembangan infrastruktur digital di wilayah yang berada dekat dengan jalur strategis tersebut.
“Kenapa gateway-nya tidak ada di Sabang atau di tempat-tempat yang berada dalam kontrol kita? Ini menjadi pertanyaan yang perlu kita jawab,” kata Nezar.
Ia menilai Aceh memiliki sejumlah modal untuk mengambil peluang tersebut, mulai dari perguruan tinggi, komunitas teknologi, talenta muda, hingga posisi geografis yang berhadapan langsung dengan jalur perdagangan dan konektivitas internasional.
Karena itu, Kementerian Komunikasi dan Digital mendorong pengembangan talenta serta kewirausahaan berbasis teknologi sebagai bagian dari pembangunan ekosistem digital di daerah.
Salah satunya melalui Garuda Spark Innovation Hub di Banda Aceh. Program tersebut diarahkan untuk memberikan akses kepada talenta lokal terhadap pembinaan, jejaring bisnis, pengembangan produk, hingga peluang bertemu dengan investor.
“Jadi, di sana nanti para talenta digital bisa dilatih dengan berbagai macam ilmu pengetahuan, skill, upscaling bisnis mereka, lalu nanti ditemukan dengan investor untuk dibuka akses finansialnya, lalu nanti di-coaching juga bagaimana dia bertumbuh setelah dapat pendanaan sampai kemudian bisa dilepas untuk bertumbuh,” imbuhnya.
Nezar juga menekankan bahwa pemanfaatan teknologi tidak selalu harus diwujudkan melalui inovasi yang kompleks. Teknologi, menurutnya, justru dapat memberikan dampak besar ketika digunakan untuk menyelesaikan persoalan konkret yang dihadapi masyarakat.
Sektor perikanan, pertanian, perdagangan hingga pelayanan pemerintahan disebut menjadi sejumlah bidang yang dapat dikembangkan melalui pemanfaatan teknologi.
Pendekatan tersebut dinilai penting agar berbagai sumber daya yang dimiliki Aceh tidak hanya menghasilkan komoditas, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi yang lebih tinggi melalui teknologi, keterampilan, dan inovasi.
“Yang kita butuhkan adalah value creation. Penciptaan nilai dari berbagai sumber daya yang ada melalui teknologi, keterampilan, dan inovasi,” ujar Nezar.
Ia berharap generasi muda Aceh tidak hanya melihat Selat Malaka sebagai jalur perdagangan dan lalu lintas data yang dilewati berbagai negara. Lebih dari itu, posisi strategis tersebut harus dimanfaatkan untuk membangun ekosistem ekonomi digital yang mampu memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Jangan hanya melihat Selat Malaka sebagai jalur yang dilewati. Kita harus mampu mengambil nilai dari sana,” tandasnya.










LEAVE A REPLY