Home Nasional Hery Haryanto Azumi Nyatakan Siap Maju Ketum PBNU, Sebut Ini Mandat Sejarah

Hery Haryanto Azumi Nyatakan Siap Maju Ketum PBNU, Sebut Ini Mandat Sejarah

69
0
SHARE
Hery Haryanto Azumi Nyatakan Siap Maju Ketum PBNU, Sebut Ini Mandat Sejarah

Keterangan Gambar : Hery Haryanto Azumi (Calon Ketua Umum PBNU)

JOMBANG — Hery Haryanto Azumi menyatakan kesiapannya untuk maju sebagai calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam Muktamar Ke-35, yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, 27–31 Agustus 2026.

Sikap tersebut disampaikan di tengah menguatnya aspirasi dan dukungan dari sejumlah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) dan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU).

Hery menegaskan, kesiapan tersebut tidak lahir semata-mata dari ambisi pribadi untuk menduduki jabatan Ketua Umum PBNU. Ia memandang dorongan dari para pengurus dan warga Nahdliyin sebagai bagian dari proses kaderisasi sekaligus amanah yang harus dipertimbangkan secara serius.

Sebelumnya, Hery juga telah menyatakan siap maju apabila memperoleh dukungan dan amanah dari para kiai serta warga Nahdliyin.

Menurut Hery, Muktamar Ke-35 memiliki makna historis yang sangat kuat. Muktamar kali ini digelar di Tambakberas, Jombang, salah satu kawasan yang memiliki hubungan erat dengan sejarah lahir dan berkembangnya Nahdlatul Ulama serta menjadi bagian dari bumi para muassis NU. Karena itu, momentum tersebut dinilai bukan sekadar pergantian kepemimpinan lima tahunan, melainkan kesempatan untuk melakukan refleksi sekaligus menentukan arah NU memasuki abad keduanya.

“Ini adalah mandat sejarah. Muktamar kali ini berlangsung di bumi kelahiran dan perjuangan para muassis NU. Karena itu, kita tidak boleh hanya berpikir tentang siapa yang menjadi ketua umum, tetapi tentang bagaimana NU kembali menjadi rumah besar yang menyatukan seluruh Nahdliyin dan mampu menjawab tantangan zaman,” demikian garis besar sikap Hery.

Hery sebelumnya menyampaikan pentingnya transformasi organisasi, penataan manajemen, serta penyusunan roadmap jangka panjang bagi NU. Ia berpandangan bahwa NU membutuhkan kepemimpinan yang mampu menjembatani tradisi pesantren dengan perkembangan teknologi, perubahan sosial, ekonomi, hingga dinamika geopolitik global.

Dengan semakin dekatnya penentuan kepemimpinan PBNU, Hery berharap Muktamar Ke-35 dapat berlangsung dengan penuh persaudaraan, tanpa politik uang dan tanpa mempertajam perpecahan.

Baginya, kontestasi kepemimpinan harus ditempatkan sebagai bagian dari khidmah, sementara keputusan akhir tetap menjadi kewenangan forum Muktamar sesuai mekanisme organisasi.

“Dari Tambakberas, dari bumi para muassis, NU harus menemukan kembali energi persatuannya untuk menatap abad kedua.”

Iklan Sidebar Kiri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here