Home Teknologi Balai Kota Bogor Punya Waste Station dari Sampah, Materialnya Daur Ulang 100 Persen

Balai Kota Bogor Punya Waste Station dari Sampah, Materialnya Daur Ulang 100 Persen

56
0
Berita ini dibaca 56 kali
👥Pengunjung hari ini 472
📊Total pengunjung 15,129
Sedang online 9
SHARE
Balai Kota Bogor Punya Waste Station dari Sampah, Materialnya Daur Ulang 100 Persen

Keterangan Gambar : Dok/Kotabogor.go.id

BOGOR – Balai Kota Bogor kini memiliki fasilitas Waste Station yang dibangun menggunakan material konstruksi berbahan daur ulang sepenuhnya. Fasilitas tersebut menjadi sarana edukasi publik sekaligus bagian dari upaya Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor membangun ekosistem pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir.

Waste Station diluncurkan di Balai Kota Bogor, Sabtu (26/9/2026), melalui kolaborasi Pemkot Bogor bersama Rekosistem, Yayasan Materia, Ford Foundation, Parongpong RAWHAUS, Kementerian Dalam Negeri, dan Kementerian Lingkungan Hidup.

Fasilitas ini disebut menjadi kantor pemerintahan sekaligus kantor kepala daerah pertama di Indonesia yang memiliki Waste Station dengan material konstruksi berbahan daur ulang sepenuhnya.

Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim mengatakan, kehadiran Waste Station merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam memastikan pengelolaan sampah berjalan secara berkelanjutan, termasuk mendorong penyelesaian sampah sejak dari sumbernya.

“Dengan adanya Waste Station, akses masyarakat menjadi lebih mudah. Tujuannya agar masyarakat lebih gampang, karena di sini mobilitasnya sangat tinggi. Banyak masyarakat yang beraktivitas di sekitar Balai Kota,” kata Dedie.

Menurut Dedie, masyarakat yang beraktivitas di kawasan Balai Kota dapat membawa sampah seperti botol plastik ke Waste Station untuk dikelola. Skema tersebut diharapkan dapat membangun kebiasaan masyarakat untuk memilah dan tidak membuang sampah sembarangan.

Selain itu, masyarakat juga mendapatkan insentif berupa reward atas sampah yang disetorkan. Sampah yang dikumpulkan nantinya dapat dikonversi menjadi uang atau saldo melalui aplikasi Rekosistem.

“Ketika mereka datang ke sini, botol-botol atau sampah setelah beraktivitas, seperti selesai berlari atau minum menggunakan botol, bisa langsung dibawa ke sini,” ujarnya.

Dedie menjelaskan, pembangunan Waste Station merupakan bagian dari kebijakan pengelolaan sampah yang lebih besar di Kota Bogor. Pemerintah juga tengah memproses pembangunan fasilitas Waste to Energy Plant atau Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).

“Kalau Waste to Energy Plant, kita sudah pastikan Kota Bogor akan memiliki dan saat ini dalam proses pembangunan. Dibangun dalam waktu dua tahun ke depan. Jadi ini bagian dari satu proses besar kebijakan tentang pengelolaan sampah dari hulu ke hilir di Kota Bogor,” jelasnya.

Ia menambahkan, Waste Station di Balai Kota juga diharapkan menjadi contoh bagi lingkungan perkantoran agar pengelolaan sampah dapat diselesaikan mulai dari sumbernya.

“Kita ingin sampah yang ada di perkantoran selesai di perkantoran. Kemudian sampah yang sudah dipilah ada yang masuk ke Waste Station, ada yang diolah langsung dan memiliki nilai manfaat ekonomi, serta ada yang masuk ke PSEL,” kata Dedie.

Sementara itu, CEO Parongpong RAW Lab Rendy Aditya Wachid mengatakan, konstruksi Waste Station menggunakan material bernama oriplast yang berasal dari sampah.

Material tersebut menunjukkan bahwa sampah yang selama ini dianggap tidak bernilai masih dapat diolah menjadi material baru yang memiliki fungsi konstruksi.

“Waste Station ini menjadi contoh bahwa sampah yang tadinya tidak bisa diapakan ternyata bisa diolah menjadi material baru dengan kekuatan 15 ton per meter persegi. Fungsinya sama seperti kayu, namun tidak ada satu batang bahkan satu ranting pun kayu yang ditebang untuk membuat material ini,” ungkap Rendy.

Menurut Rendy, produksi material tersebut dilakukan sepenuhnya di Indonesia dan tidak menggunakan proses pembakaran dalam pengolahannya.

Melalui Waste Station tersebut, masyarakat juga diperkenalkan pada konsep bahwa material bekas dapat direvitalisasi dan memiliki nilai guna baru.

“Melalui ini kita mengedukasi bahwa tidak ada yang namanya sampah, yang ada hanyalah material yang belum direvitalisasi. Kita juga ingin memperlihatkan bahwa kita memiliki produk yang bagus dan kuat tanpa harus mengorbankan kebutuhan generasi masa depan,” ujarnya.

Inisiasi pembangunan Waste Station berawal dari pertemuan Dedie A. Rachim dengan CEO dan Co-Founder Rekosistem Ernest Christian Layman pada tahun lalu. Dari pertemuan tersebut, Dedie mengajak para penggiat lingkungan Kota Bogor mengunjungi Rekosistem di Bogor Selatan untuk mempelajari pengembangan ekosistem pengelolaan persampahan.

Kolaborasi tersebut kemudian berkembang hingga diwujudkan melalui pembangunan Waste Station di Balai Kota Bogor. Menariknya, fasilitas tersebut dapat dibangun menggunakan material daur ulang dalam waktu sekitar enam jam.

Kehadiran Waste Station diharapkan tidak hanya menjadi fasilitas pengumpulan sampah, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran bagi masyarakat bahwa sampah dapat dipilah, dikelola, dan memiliki nilai ekonomi apabila ditangani dengan tepat.

Iklan Sidebar Kiri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here