Home Dunia Islam Menag Nasaruddin Umar: Dalam Tasawuf, Derita dan Nikmat Tak Lagi Berjarak

Menag Nasaruddin Umar: Dalam Tasawuf, Derita dan Nikmat Tak Lagi Berjarak

Tasawuf

21
0
SHARE
Menag Nasaruddin Umar: Dalam Tasawuf, Derita dan Nikmat Tak Lagi Berjarak

Keterangan Gambar : Dok/Kemenag

MAKASSAR  — Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar memaparkan konsep ketahanan mental (resilience) dari sudut pandang tasawuf saat mengisi kajian di Thareqat Almuhammadiyyah Alyunusiyyah Al-Idrisiyah, Makassar, Selasa (10/2/2026).

Dalam kajiannya, Menag menekankan bahwa kedamaian batin sejati dapat dicapai ketika seseorang mampu melampaui dualitas antara kesenangan dan penderitaan. Menurutnya, pada maqam atau tingkatan spiritual tertentu, jarak antara ujian dan kenikmatan akan semakin menyempit hingga perbedaannya nyaris tidak terasa.

“Bagi orang yang beriman, tidak ada lagi bedanya antara penderitaan dan kenikmatan. Semakin menganga jarak antara keduanya bagi orang awam, namun jarak itu menyempit bagi mereka yang paham. Di mata orang yang sudah fana, semuanya sama,” ujar Menag Nasaruddin Umar.

Menag menjelaskan bahwa ketahanan mental seorang mukmin dibangun melalui pemahaman bahwa segala sesuatu di alam semesta diciptakan secara berpasangan sebagai bentuk keseimbangan. Ia mencontohkan keberadaan siang dan malam sebagai analogi untuk memahami hakikat cahaya.

“Tanpa adanya siang, kita tidak tahu apa itu malam. Tanpa adanya malam, tidak mungkin kita tahu hakikat cahaya. Bahkan, kita mengenal surga karena adanya neraka. Begitu pula dalam kehidupan, makna kebaikan sering kali baru dapat dipahami melalui keburukan atau ujian,” jelasnya.

Lebih lanjut, Menag mengajak jamaah untuk mengubah cara pandang atau mindset dalam menghadapi dinamika kehidupan. Ia menegaskan bahwa ketenangan batin tidak ditentukan oleh situasi eksternal, melainkan oleh bagaimana hati memaknai dan memproses setiap peristiwa.

“Cara pandang kita sangat menentukan. Jika kita melihat segala sesuatu sebagai manifestasi dari kehendak Sang Pencipta, maka tidak ada alasan untuk merasa terpuruk secara berlebihan. Semuanya merupakan bagian dari jalan menuju pengenalan diri dan Tuhan,” tutur Menag.

Menutup kajiannya, Menag berpesan agar umat Islam menyambut bulan suci Ramadan dengan kesiapan ruhani yang matang. Ia mengingatkan agar tujuan ibadah difokuskan sepenuhnya kepada Allah SWT, bukan semata mengejar fenomena-fenomena spiritual.

Iklan Sidebar Kiri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here