
Keterangan Gambar : Dok/Kemenag.go.id/Fiqri
Penulis: Al Fiqri Ardiansyah (Mahasiswa Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta)
Ramadan adalah bulan penyucian jiwa, penguatan akal, dan pendalaman spiritualitas yang mengembalikan orientasi hidup kepada Yang Ilahi. Namun di tengah arus digital yang kian agresif, muncul paradoks yang tak lagi bisa diabaikan. Ketika tubuh berlatih menahan lapar dan dahaga, pikiran justru tenggelam dalam arus scrolling tanpa henti. Sahur ditemani video pendek, waktu menunggu berbuka dihabiskan di linimasa yang bergerak cepat, dan malam selepas tarawih ditutup dengan Reels yang tak berujung. Fenomena ini bukan sekadar perubahan gaya hidup, melainkan gejala zaman yang oleh banyak kalangan kini disebut sebagai brain rot.
Istilah brain rot atau yang kerap dipahami sebagai “pembusukan otak” memang bukan diagnosis medis formal, tetapi ia telah menjadi simbol kegelisahan global. Oxford University Press bahkan menetapkannya sebagai Word of the Year 2024, mencerminkan kekhawatiran luas atas kemerosotan kapasitas mental akibat konsumsi konten digital yang dangkal dan berlebihan. Istilah ini lahir dari kesadaran bahwa pola konsumsi informasi modern, terutama video pendek berdurasi belasan detik, telah mengubah cara manusia memusatkan perhatian. Setiap swipe menghadirkan potensi hiburan baru, setiap scroll menjanjikan kejutan berikutnya. Otak dilatih bukan untuk bertahan dalam kedalaman, melainkan untuk terus mencari rangsangan baru.
Sejumlah penelitian dalam psikologi kognitif menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang intens berkorelasi dengan melemahnya perhatian berkelanjutan. Firth dan koleganya dalam tinjauan meta-analitik menemukan hubungan antara paparan media sosial dan performa kognitif, khususnya pada aspek fokus dan pengendalian diri.
Gloria Mark, peneliti distraksi digital, juga menunjukkan bahwa rentang perhatian manusia modern semakin memendek akibat gangguan digital yang terus-menerus. Dalam konteks neurobiologi, pola ini berkaitan dengan sistem dopamin, yaitu mekanisme penghargaan di otak. Konten pendek bekerja seperti mesin penguat perilaku: selalu ada kemungkinan video berikutnya lebih lucu, lebih mengejutkan, atau lebih memancing emosi. Ketidakpastian inilah yang membuat orang sulit berhenti. Perlahan, kontrol reflektif melemah, sementara impuls sesaat menguat.
Masalah ini menjadi jauh lebih serius ketika ditempatkan dalam konteks Ramadan. Puasa bukan sekadar latihan biologis, melainkan latihan kesadaran. Ia mengajarkan manusia untuk tidak tunduk pada dorongan instan. Ketika seseorang menahan makan dan minum selama lebih dari dua belas jam, ia sedang membangun disiplin batin. Namun algoritma media sosial justru dirancang untuk memperkuat dorongan instan tersebut.
Yuval Noah Harari dalam Homo Deus (2016) memperingatkan lahirnya era dataism, ketika data dan algoritma menjadi penentu arah pilihan manusia. Dalam kerangka ini, kebebasan dapat menjadi ilusi: manusia merasa memilih, padahal preferensinya dibentuk oleh sistem prediktif yang memaksimalkan keterikatan. Ketika perhatian diserahkan kepada algoritma, otonomi kognitif perlahan terkikis.
Ramadan seharusnya menumbuhkan muraqabah, kesadaran bahwa setiap tindakan berada dalam pengawasan Tuhan dan karenanya harus dipertanggungjawabkan. Namun budaya scrolling justru membentuk kebiasaan sebaliknya: automaticity, perilaku otomatis tanpa refleksi. Seseorang mungkin menyelesaikan satu juz tilawah, tetapi pikirannya terus meloncat pada notifikasi. Ia bisa menghadiri tarawih, tetapi batinnya masih tertambat pada video terakhir yang ditonton.
Di sinilah brain rot menjadi ancaman spiritual. Ia bukan sekadar soal waktu yang terbuang, melainkan hilangnya kedalaman. Ketika perhatian rapuh, tafakkur menjadi dangkal; ketika fokus mudah terpecah, dzikir kehilangan kekhusyukan.
Skala persoalan ini tidak kecil. Indonesia termasuk negara dengan jumlah pengguna media sosial yang sangat besar, dengan rata-rata waktu penggunaan yang melampaui dua jam per hari. Ketika fakta ini bertemu dengan desain algoritma yang semakin canggih dalam mempertahankan keterikatan pengguna, dampaknya terhadap kualitas perhatian kolektif menjadi signifikan. Generasi yang tumbuh dalam stimulasi serba cepat berisiko kesulitan bertahan dalam proses belajar mendalam, diskusi serius, maupun ibadah yang membutuhkan keheningan batin.
Padahal Al-Qur’an berulang kali mengingatkan pentingnya menggunakan hati dan akal untuk memahami: “Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami” (QS. Al-A’raf: 179). Ayat ini terasa sangat relevan di era digital. Ketika hati dan akal terus dibanjiri rangsangan instan, kemampuan untuk berhenti dan merenung pun melemah.
Dalam perspektif neuroteologi, praktik spiritual seperti doa dan dzikir berkaitan dengan pola aktivitas otak yang mendukung fokus, ketenangan, dan regulasi emosi. Artinya, tradisi ibadah Ramadan memiliki landasan psikologis sekaligus neurologis yang kuat untuk memulihkan keseimbangan perhatian.
Karena itu, solusi atas krisis brain rot di bulan Ramadan tidak cukup dengan imbauan moral yang umum. Yang dibutuhkan adalah kesadaran baru bahwa pengelolaan perhatian merupakan bagian dari ibadah. Puasa bukan hanya menahan asupan fisik, tetapi juga menahan banjir rangsangan yang berlebihan. Jika perut mampu dikosongkan demi disiplin spiritual, maka linimasa digital pun seharusnya dapat dibatasi demi kejernihan akal. Inilah yang dapat disebut sebagai tazkiyah digital: proses penyucian diri melalui pengendalian konsumsi informasi.
Langkahnya mungkin sederhana, tetapi dampaknya mendalam. Menetapkan waktu tanpa gawai sebelum berbuka, memindahkan ponsel dari ruang ibadah, atau mengganti kebiasaan scrolling malam dengan membaca dan merenung merupakan bentuk perlawanan terhadap kolonisasi perhatian. Ini bukan sikap anti-teknologi, melainkan upaya merebut kembali kedaulatan diri. Ramadan menyediakan struktur harian yang memungkinkan disiplin ini dibangun secara sistematis. Ia menghadirkan ruang untuk hening, jeda, dan refleksi, sesuatu yang semakin langka dalam budaya digital.
Pada akhirnya, brain rot mungkin terdengar sebagai istilah yang keras, tetapi ia menamai realitas yang nyata: kemerosotan kedalaman berpikir akibat konsumsi konten dangkal yang terus-menerus. Ramadan datang sebagai kesempatan emas untuk membalik arus tersebut. Jika bulan ini berlalu tanpa perubahan dalam cara kita memperlakukan perhatian, maka transformasi yang dijanjikan puasa akan sulit terwujud. Tubuh mungkin berpuasa, tetapi pikiran tetap dikuasai algoritma.
Urgensinya jelas. Menjaga akal adalah bagian dari tujuan syariat. Di era digital, menjaga akal berarti menjaga fokus dan kesadaran. Ramadan adalah momentum untuk merebut kembali perhatian dari cengkeraman scrolling tanpa henti dan mengembalikannya kepada tafakkur, dzikir, dan perenungan mendalam. Sebab dalam keheningan refleksi itulah manusia menemukan kembali makna hidupnya, bukan dalam deretan video yang lewat dalam hitungan detik dan segera terlupakan. (sumber kemenag.go.id)










.png)
LEAVE A REPLY