Home Opini Hikmah Idul Adha Untuk Kebangkitan Bangsa

Hikmah Idul Adha Untuk Kebangkitan Bangsa

49
0
SHARE
Hikmah Idul Adha Untuk Kebangkitan Bangsa

Oleh Mohammad Nur Kholis, S.Th.I
(Ketua DPC PKB Kab. Tangerang & Ketua Fraksi PKB Provinsi Banten)

“Pada hari kurban, yang harus disembelih bukan hanya hewan,
 tetapi juga keserakahan dalam dirimu."
— Jalaluddin Rumi, Sang sufi

Syair keren dari Rumi itu seperti anak panah yang menembus jantung kesadaran manusia. Sebab sering kali kita begitu sibuk melaksanakan ritual, tetapi lupa menyembelih sifat-sifat buruk dalam diri sendiri. Kita menyembelih kambing dan sapi, tetapi membiarkan kesombongan tetap hidup. Kita melantunkan takbir dengan suara lantang, tetapi ego tetap bertakhta dalam hati. 

Karena itu, Idul Adha sesungguhnya bukan hanya perayaan tentang darah dan daging kurban. Ia adalah perjalanan ruhani manusia untuk kembali kepada fitrahnya. Sebuah panggilan agar manusia berani mengalahkan wabah egoisme dirinya sendiri.

Setiap kali gema takbir Idul Adha berkumandang, langit seperti dipenuhi suara kerinduan manusia kepada Tuhannya. Takbir itu bukan sekadar seruan ritual. Ia adalah panggilan untuk kembali menengok hati: masihkah kita sanggup berkorban? Masihkah kita mampu mencintai sesuatu yang lebih besar daripada diri sendiri?

Di tengah hiruk-pikuk dunia yang semakin gaduh oleh perebutan kepentingan dan hawa nafsu, Idul Adha hadir membawa pesan sunyi tentang keikhlasan akan pengorbanan. Tentang Nabi Ibrahim yang diuji pada titik paling dalam dari cintanya. Tentang seorang anak bernama Nabi Ismail yang mengajarkan kepasrahan tanpa kebencian. Dan tentang seorang ibunda agung Siti Hajar, yang mengajarkan ketabahan dan keyakinan di tengah kesunyian padang pasir yang gersang nan tandus.
Kisah keluarga Nabi Ibrahim sesungguhnya adalah kisah tentang cinta yang dibangun di atas keimanan. Nabi Ibrahim mengajarkan keteguhan dan keberanian menyerahkan yang paling dicintai demi kebenaran. Nabi Ismail mengajarkan kepatuhan dan keikhlasan menerima takdir Tuhan tanpa kemarahan.

Sedangkan Ibunda Siti Hajar mengajarkan bahwa harapan tidak boleh mati bahkan ketika manusia berada di titik paling sepi dan tak berdaya.
Ketika Ibunda Siti Hajar berlari kecil antara Bukit Shafa dan Marwah mencari air untuk putranya, ia sesungguhnya sedang mengajarkan kepada umat manusia bahwa mukjizat lahir dari ikhtiar dan keyakinan. Air Zamzam tidak muncul kepada orang yang menyerah. Ia hadir kepada seorang ibunda yang terus bergerak meski kehausan dan kecemasan mengepung warna-warni hidupnya. Betapa agung pelajaran itu bagi bangsa kita hari ini.

Bangsa Indonesia yang besar tidak lahir dari manusia-manusia yang mudah putus asa. Kebangkitan selalu dimulai oleh orang-orang yang tetap percaya kepada harapan meski keadaan tampak gelap. Sebagaimana Ibunda Siti Hajar terus berlari di tengah padang tandus, bangsa ini pun harus terus bergerak mencari jalan keluar dari berbagai persoalan, problem of evils yakni kemiskinan, ketidakadilan, perpecahan, krisis moral dan krisis ekonomi.

Kitab suci Al-Qur’an mengingatkan,“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai ridha Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” Di sinilah Idul Adha menemukan maknanya yang paling hakiki. Kurban bukan soal apa yang disembelih tangan kita, tetapi apa yang disembelih dalam jiwa kita.

Barangkali yang paling sulit dikurbankan manusia hari ini bukan kambing atau sapi. Yang paling sulit adalah egoisme, kesombongan dan ketamakan. Nafsu untuk selalu menang sendiri. Kita hidup di zaman ketika manusia mudah sekali mengorbankan orang lain demi dirinya, tetapi sangat sulit mengorbankan dirinya demi orang lain. Naudzubillah mindzalik!

Padahal bangsa ini tidak dibangun oleh manusia-manusia egois.
Indonesia lahir dari air mata dan pengorbanan. Kemerdekaan tumbuh dari orang-orang yang rela kehilangan kenyamanan demi cita-cita bersama. Para pendiri bangsa dahulu tidak bertanya, “Apa yang akan saya dapat?” Mereka bertanya, “Apa yang bisa saya berikan?” Kini pertanyaan itu terasa semakin asing.

korupsi menjelma budaya. Jabatan sering dipandang sebagai kesempatan memperkaya diri. Agama terkadang berhenti pada simbol dan slogan, tetapi kehilangan getaran kasih sayang. Kita menyaksikan orang begitu fasih berbicara tentang Tuhan, tetapi lupa memuliakan manusia. Kita mendengar pidato tentang persatuan, tetapi kebencian dibiarkan tumbuh di media sosial dan ruang-ruang publik. Karena itu, Idul Adha sesungguhnya bukan hanya perayaan keagamaan. Ia adalah kritik spiritual bagi kehidupan bangsa.
Kurban mengajarkan bahwa kehidupan tidak akan menjadi mulia tanpa kesediaan berbagi. Daging kurban dibagikan kepada fakir miskin agar kebahagiaan tidak berhenti di rumah orang-orang berada. Islam ingin menanamkan satu kesadaran penting: bahwa penderitaan orang lain adalah juga urusan kita. Bangsa ini terlalu luas untuk dibangun dengan rasa tidak peduli.

Kebangkitan bangsa hanya lahir dari masyarakat yang memiliki empati. Dari hati yang mudah tergerak melihat kesulitan sesama. Dari tangan yang ringan membantu tanpa harus dipuji. Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang kaya sumber daya alamnya, tetapi bangsa yang kaya rasa kemanusiaannya.

Pandangan seperti itu juga pernah disampaikan Ketua Umum PKB, Sahabat senior Dr. Muhaimin Iskandar, M.Si atau yang akrab dipanggil Cak Imin. Dalam berbagai kesempatan, ia menegaskan bahwa,”Hari-hari besar keagamaan harus menjadi momentum memperkuat persatuan bangsa dan solidaritas sosial.” Menurutnya, bangsa ini tidak boleh lelah merawat kebersamaan di tengah berbagai perbedaan dan tantangan zaman.
Semangat itu terasa sangat dekat dengan pesan Idul Adha. Sebab kurban pada hakikatnya bukan hanya ibadah individual, melainkan ibadah sosial. Ada dimensi kemanusiaan yang sangat kuat di dalamnya. Ketika seekor sapi dan kambing disembelih, sesungguhnya Islam sedang mengajarkan bahwa di dalam harta kita ada hak orang lain. Bahwa kebahagiaan tidak boleh dinikmati sendirian.

Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat RI Cak Imin juga berkali-kali mengingatkan pentingnya gotong royong sebagai kekuatan utama bangsa. Dan Idul Adha adalah perayaan gotong royong yang paling nyata. Orang-orang berkumpul bukan untuk menunjukkan status sosial, tetapi untuk berbagi. Tidak ada sekat antara kaya dan miskin ketika daging kurban dibagikan dari rumah ke rumah. Semua dipertemukan oleh rasa persaudaraan sesama anak bangsa Di sinilah agama menemukan wajahnya yang paling indah: menghadirkan kasih sayang dalam kehidupan sosial kebangsaan.
Namun di tengah berbagai kegelisahan tentang masa depan bangsa, kita sering bertanya dengan nada pesimis. Apakah manusia pada dasarnya memang rakus dan saling menghancurkan? Apakah kebaikan hanya mimpi yang kalah oleh kepentingan dan kekuasaan?

Seorang sejarawan bernama Rutger Bregman, melalui bukunya Humankind: A Hopeful History, mengajukan pandangan yang menyejukkan bahwa pada fitrahnya manusia adalah makhluk yang cenderung kepada kebaikan. Menurutnya, peradaban bertahan bukan semata karena persaingan, tetapi karena kerja sama, empati, dan kemampuan manusia untuk saling menolong sesama manusia. Pandangan ini terasa sangat dekat dengan Hikmah Idul Adha.

Islam sejak awal memandang manusia lahir dalam keadaan fitrah, bersih dan membawa potensi kebaikan. Karena itu, ketika Idul Adha mengajarkan berbagi daging kurban kepada sesama, sesungguhnya agama sedang merawat fitrah kemanusiaan itu. Sebab jauh di dalam hati manusia, ada kerinduan untuk memberi, untuk mencintai, dan untuk merasa berguna bagi orang lain. Sebagaimana sabda Muhammad Sang Nabi,”Manusia yang terbaik adalah yang bermanfaat bagi sesama, Khairunnas Anfa’ahum Linnas.”

Kita bisa melihatnya dalam kehidupan sehari-hari. Ketika bencana datang, orang-orang spontan membantu tanpa bertanya suku dan agama. Ketika tetangga kesusahan, masih ada tangan-tangan yang diam-diam mengirim makanan. Ketika ada yang sakit, banyak yang datang membawa doa dan perhatian. Semua itu menunjukkan bahwa di balik segala kebisingan dunia, nurani manusia belum mati dan padam.
Barangkali media sosial dan politik sering membuat kita percaya bahwa manusia penuh kebencian. Tetapi sesungguhnya kebencian lebih berisik daripada kebaikan. Kebaikan sering bekerja dalam diam. Dan bangsa ini sesungguhnya ditopang oleh orang-orang baik yang tidak banyak bicara.

Petani yang tetap menanam meski harga tak menentu. Nelayan yang tetap melaut di tengah bahan bakar solar dan bensin. Guru honorer yang tetap mengajar dengan gaji kecil. Relawan yang membantu korban bencana tanpa berharap dikenal. Para ibu dan ayah yang berjuang menjaga keluarganya tetap utuh di tengah himpitan ekonomi. Mereka adalah wajah asli bangsa ini: sederhana, tabah, dan penuh pengorbanan. Karena itu, Idul Adha seharusnya membuat kita lebih optimis memandang masa depan Indonesia. Bahwa kebangkitan bangsa bukan sesuatu yang mustahil, selama nilai-nilai kebaikan masih dipelihara. Selama manusia masih mau berbagi. Masih mau peduli. Masih mau menahan ego demi kepentingan bersama.
Sebagaimana diyakini Rutger Bregman dan Cak Imin, manusia pada dasarnya memiliki kecenderungan untuk saling percaya dan bekerja sama. Dan agama Islam hadir untuk menjaga cahaya itu agar tidak padam oleh keserakahan, egoisme dan kebencian.

Ala kulli hal, 
momentum Idul Adha menemukan relevansinya yang paling dalam. Ia bukan sekadar ritual tahunan, melainkan usaha terus-menerus mengembalikan manusia kepada fitrahnya. Menjadi pribadi yang rela berkorban, ringan berbagi, dan lembut terhadap sesama anak bangsa. Harapan akan kebangkitan bangsa hanya akan tumbuh di hati manusia yang percaya pada butir-butir kebaikan. Menjadi nyala api di tengah kelam kegelapan masyarakat, mencipta  pencerahan, dan kebangkitan bangsa yang kita damba. 

Sebagai sesama anak Bangsa, kita semua ingin menggapai tujuan yang satu yaitu kehidupan yang damai dan berkah sebagaimana jalan hidup Nabi Ibrahim dan keluarga mulianya. Karena segenap kehidupan Nabi Ibrahim adalah cinta yang menjelma. Menjadi inspirasi mulia kaum muda, milenial, gen-Z dan kaum Muslimin wal Muslimat di zaman now.

Semoga Allah Swt senantiasa memberikan kita kekuatan untuk selalu mendahulukan kehendak-Nya di atas seluruh keinginan hawa hafsu kita. Hanya dengan itulah kita bisa memperoleh ketenteraman dan diberkati Allah Swt di jagat bumi Indonesia. 

Barokallah !
Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.

Iklan Sidebar Kiri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here