.png)
Keterangan Gambar : Dok/Kemenag
Jakarta – Fakultas Syariah dan Hukum Universitas PTIQ Jakarta (FSH PTIQ) menunjukkan kiprahnya di tingkat internasional dengan menggandeng Vrije Universiteit Amsterdam dalam dialog bertajuk “The Role of Pesantren in Shaping Values: Dialogue and Friendship”. Kegiatan ini berlangsung di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah dan menghadirkan kolaborasi lintas budaya serta disiplin ilmu.
Sebanyak 17 delegasi dari program Executive MBA Short Course VU Amsterdam turut hadir dalam forum tersebut. Para peserta yang terdiri dari akademisi, praktisi bisnis, hingga entrepreneur asal Belanda ini mendalami peran strategis pesantren dalam membentuk nilai sosial, etika keagamaan, serta penguatan ekonomi masyarakat di tengah dinamika global.
Pengasuh Pondok Pesantren Asshiddiqiyah, Ahmad Mahrus Iskandar, menegaskan komitmen pesantren untuk terus bertransformasi tanpa kehilangan identitas. Ia menyampaikan bahwa pesantren tidak hanya berperan dalam membentuk akhlak, tetapi juga menyiapkan santri dengan wawasan global.
“Asshiddiqiyah konsisten menyiapkan santri yang tidak hanya berakhlakul karimah, tetapi juga berwawasan global yang siap menjawab tantangan zaman,” ujarnya.
Kegiatan ini juga melibatkan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia serta Yayasan Santri Mengglobal Nusantara, menciptakan ruang dialog yang komprehensif dari aspek teologis hingga ekonomi.
Dekan FSH PTIQ Jakarta, Dito Alif Pratama, menyebut agenda ini sebagai langkah strategis untuk menempatkan pesantren di panggung global. Menurutnya, pesantren memiliki kekayaan nilai yang relevan dalam menjawab berbagai tantangan dunia modern.
“Pesantren memiliki kekayaan nilai yang relevan untuk menjawab tantangan global. Kami ingin menegaskan posisi pesantren sebagai pusat pembentukan karakter dan etika inklusif,” ungkapnya.
Sementara itu, Koordinator kegiatan dari VU Amsterdam, Elco van Burg, mengaku terkesan dengan model pendidikan pesantren di Indonesia. Ia menilai pesantren sebagai sistem pendidikan yang unik dengan nilai kepemimpinan berbasis tujuan (purpose-driven leadership).
“Dialog ini membuka peluang kolaborasi konstruktif antara akademisi internasional dan tradisi pendidikan Islam Indonesia. Kami melihat potensi besar untuk kerja sama riset dan pengembangan masyarakat di masa depan,” jelasnya.
Melalui rangkaian kegiatan seperti diskusi kelompok terfokus, networking, hingga kunjungan langsung ke lingkungan pesantren, forum ini tidak hanya memperkuat pemahaman tentang moderasi beragama, tetapi juga mempertegas posisi FSH PTIQ Jakarta sebagai pusat kajian keislaman yang kompetitif dan berdaya saing global.

.jpg)
.png)
.png)





.png)
.png)
.png)
LEAVE A REPLY